Selasa, 11 Februari 2014

HURUF JAWA

Aksara Jawa, dikenal juga sebagai Hanacaraka (ꦲꦤꦕꦫꦏ) dan Carakan (ꦕꦫꦏꦤ꧀),[1] adalah salah satu aksara tradisional Nusantara yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa dan sejumlah bahasa daerah Indonesia lainnya seperti bahasa Sunda dan bahasa Sasak[2] Tulisan ini berkerabat dekat dengan aksara Bali.
Dalam sehari-hari, penggunaan aksara Jawa umum digantikan dengan huruf Latin yang pertama kali dikenalkan Belanda pada abad 19.[1] Aksara Jawa resmi dimasukkan dalam Unicode versi 5.2 sejak 2009. Meskipun begitu, kompleksitas aksara Jawa hanya dapat ditampilkan dalam program dengan teknologi SIL Graphite, seperti browser Firefox dan beberapa prosesor kata open source, sehingga penggunaannya tidak semudah huruf Latin. Kesulitan penggunaan aksara Jawa dalam media digital merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kurang populernya aksara tersebut selain di kalangan preservasionis.

Ciri-ciri

Aksara Jawa adalah sistem tulisan Abugida yang ditulis dari kiri ke kanan. Setiap huruf pada aksara Jawa melambangkan suatu suku kata dengan vokal /a/ atau /ɔ/, yang dapat ditentukan dari posisi huruf. Aksara ditulis tanpa spasi (scriptio continua)[3], dan karena itu pembaca harus paham dengan teks bacaan untuk dapat membedakan tiap kata.
Huruf dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan fungsinya. Huruf dasar terdiri dari 20 konsonan yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa modern, sementara jenis lain meliputi huruf kapital, huruf arkaik, dan huruf yang dimodifikasi. Semua jenis huruf ini memiliki bentuk subskrip yang digunakan untuk menulis tumpukan konsonan.
Kebanyakan huruf selain huruf dasar merupakan konsonan teraspirasi atau retroflex yang digunakan dalam bahasa Jawa Kuno karena pengaruh bahasa Sansekerta. Selama perkembangan bahasa dan aksara Jawa, huruf-huruf ini kehilangan representasi suara aslinya dan berubah fungsi.
Sejumlah tanda baca mengubah vokal (layaknya harakat pada abjad Arab), menambahkan konsonan akhir, dan menandakan ejaan asing[3]. Beberapa tanda baca dapat digunakan bersama-sama, namun tidak semua kombinasi diperbolehkan.
Terdapat tanda-tanda yang setara dengan koma, titik, titik dua, serta kutip, dan terdapat pula tanda membuka puisi/tembang, mengawali surat, dll[4].
Aksara Jawa memiliki digitnya senditi yang terdiri dari angka 0-9. Tujuh diantaranya memiliki bentuk yang mirip dengan aksara. Sejumlah tanda baca dapat digunakan untuk membedakan angka yang muncul dalam teks.[2]

Sejarah

Tulisan Jawa dan Bali adalah perkembangan modern aksara Kawi, salah satu turunan aksara Brahmi yang berkembang di Jawa. Pada masa periode Hindu-Buddha, aksara tersebut terutama digunakan dalam literatur keagamaan dan terjemahan Sansekerta yang biasa ditulis dalam naskah daun lontar.[2] Selama periode Hindu-Buddha, bentuk aksara Kawi berangsur-angsur menjadi lebih Jawa, namun dengan ortografi yang tetap. Pada abad 17, tulisan tersebut telah berkembang menjadi bentuk modernnya dan dikenal sebagai Carakan[5] atau hanacaraka berdasarkan lima huruf pertamanya.
Carakan terutama digunakan oleh penulis dalam lingkungan kraton kerajaan seperti Surakarta dan Yogyakarta untuk menulis naskah berbagai subjek, diantaranya cerita-cerita (serat), catatan sejarah (babad), tembang kuno (kakawin), atau ramalan (primbon). Subjek yang populer akan berkali-kali ditulis ulang.[6] Naskah umum dihias dan jarang ada yang benar-benar polos. Hiasan dapat berupa tanda baca yang sedikit dilebih-lebihkan atau pigura halaman (disebut wadana) yang rumit dan kaya warna.
Pada tahun 1926, sebuah lokakarya di Sriwedari, Surakarta menghasilkan Wewaton Sriwedari (Ketetapan Sriwedari), yang merupakan landasan awal standarisasi ortografi aksara Jawa.[7] Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak panduan mengenai aturan dan ortografi baku aksara Jawa yang dipublikasikan, diantaranya Patokan Panoelise Temboeng Djawa oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada 1946,[7] dan sejumlah panduan yang dibuat oleh Kongres Bahasa Jawa (KBJ) antara 1991 sampai 2006.[8][9] KBJ juga berperan dalam implementasi aksara Jawa di Unicode.
Namun dari itu, penggunaan aksara Jawa telah menurun sejak ortografi Jawa berbasis huruf latin ditemukan pada 1926,[1] dan sekarang lebih umum menggunakan huruf latin untuk menulsi bahasa Jawa. Hanya beberapa majalah dan koran yang masih mencetak dalam aksara Jawa, seperti Jaka Lodhang. Aksara Jawa masih diajarkan sebagai muatan lokal pada sekolah dasar dan sekolah menengah di provinsi yang berbahasa Jawa.

Huruf

Sebuah huruf dasar tanpa tanda baca disebut sebagai sebuah aksara (ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​), yang merepresentasikan suku kata dengan vokal /a/ atau /ɔ/ tergantung dari posisinya.[3] Namun vokal juga tergantung dari dialek pembicara; dimana dialek Jawa Barat cenderung menggunakan /a/ sementara dialek Jawa Timur lebih cenderung menggunakan /ɔ/. Aturan baku penentuan vokal aksara dideskripsikan dalam Wewaton Sriwedari sebagai berikut:
  1. Sebuah aksara dibaca dengan vokal /ɔ/ apabila aksara sebelumnya mengandung sandhangan swara.
  2. Sebuah aksara dibaca dengan vokal /a/ apabila aksara setelahnya mengandung sandhangan swara.
  3. Aksara pertama sebuah kata umumnya dibaca dengan vokal /ɔ/, kecuali dua huruf setelahnya merupakan aksara dasar. Jika begitu, aksara tersebut dibaca dengan vokal /a/.

Konsonan

Terdapat 33 huruf dalam aksara Jawa, namun tidak semuanya digunakan. Tabel berikut menunjukkan konsonan Jawa dengan bunyi aslinya yang digunakan dalam bahasa Jawa Kuno:
Aksara wianjana (Konsonan)
Tempat pelafalan Pancawalimukha Semivokal Sibilan Celah
Bersuara Nirsuara Sengau
Guttural
Nglegena ka.png
(Ka)
Uniform height Murda ka.png
(Kha)
Nglegena ga.png
(Ga)
Uniform height Murda ga.png
(Gha)
Nglegena nga.png
(Nga)

Palatal
Nglegena ca.png
(Ca)
Uniform height Murda ca.png
(Cha) 1
Nglegena ja.png
(Ja)
Mahaprana ja.png
(Jha)
Nglegena nya.png
(Nya)
Nglegena ya.png
(Ya)
Uniform height Murda sa.png
(Śa)

Retroflex
Nglegena tha.png
(Ṭa)2
Uniform height Mahaprana tha.png
(Ṭha)
Nglegena dha.png
(Ḍa)2
Uniform height Mahaprana dha.png
(Ḍha)
Uniform height Murda na.png
(Ṇa)
Nglegena ra.png
(Ra)
Uniform height Mahaprana sa.png
(Ṣa)
Gigi
Nglegena ta.png
(Ta)
Uniform height Murda ta.png
(Tha)
Nglegena da.png
(Da)
Uniform height Murda da.png
(Dha)
Nglegena na.png
(Na)
Nglegena la.png
(La) 3
Nglegena sa.png
(Sa)
Bibir
Nglegena pa.png
(Pa)
Uniform height Murda pa.png
(Pha)
Nglegena ba.png
(Ba)
Uniform height Murda ba.png
(Bha)
Nglegena ma.png
(Ma)
Nglegena wa.png
(Wa)

Aproksiman
Nglegena ha.png
(Ha) 4
^1 Hanya ditemukan dalam bentuk pasangan.[2]
^2 Ḍa dan ṭa lebih umum ditulis dha dan tha. Penulisan ini digunakan untuk membedakan dha (ɖa) dan tha (ʈa) retroflex dalam bahasa Jawa modern dengan dha (d̪ha) dan tha (t̪ha) teraspirasi dalam bahasa Jawa kuno.
^3 Sebenarnya konsonan alveolar, namun diklasifikasikan sebagai dental (gigi).
^4 Dapat dibaca tanpa bunyi /h/.

Ortografi modern mengabaikan pelafalan asli sejumlah huruf yang kemudian dialih-fungsikan. Dari 30 huruf, 20 dipertahankan bunyi aslinya dan menjadi huruf dasar, sementara huruf lainnya dikategorikan sebagai murda dan mahaprana sebagai berikut:
Aksara wianjana (Konsonan)
Transkripsi Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga
Nglegéna
Nglegena ha.png
Nglegena na.png
Nglegena ca.png
Nglegena ra.png
Nglegena ka.png
Nglegena da.png
Nglegena ta.png
Nglegena sa.png
Nglegena wa.png
Nglegena la.png
Nglegena pa.png
Nglegena dha.png
Nglegena ja.png
Nglegena ya.png
Nglegena nya.png
Nglegena ma.png
Nglegena ga.png
Nglegena ba.png
Nglegena tha.png
Nglegena nga.png
Murda
Uniform height Murda na.png
Uniform height Murda ca.png

Uniform height Murda ka.png
Uniform height Murda da.png
Uniform height Murda ta.png
Uniform height Murda sa.png

Uniform height Murda pa.png

Murda nya.png

Uniform height Murda ga.png
Uniform height Murda ba.png

Mahaprana
Uniform height Mahaprana sa.png

Uniform height Mahaprana dha.png
Mahaprana ja.png

Uniform height Mahaprana tha.png

  • Aksara nglegéna (ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦔ꧀ꦊꦒꦺꦤ) adalah huruf dasar untuk menulis bahasa Jawa modern.
  • Aksara murda (ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦩꦸꦂꦢ) atau aksara gedé digunakan seperti halnya huruf kapital dalam tulisan latin, kecuali untuk menandakan awal suatu kalimat. Murda digunakan pada huruf pertama suatu nama, umumnya nama tempat atau orang yang dihormati. Tidak semua aksara mempunyai bentuk murda, dan apabila huruf pertama suatu nama tidak memiliki bentuk murda, huruf kedua yang menggunakan murda. Apabila huruf kedua juga tidak memiliki bentuk murda, maka huruf ketiga yang menggunakan murda, begitu seterusnya. Nama yang sangat dihormati dapat ditulis seluruhnya dengan murda apabila memungkinkan.
  • Aksara mahaprana (ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦩꦲꦥꦿꦤ) adalah huruf yang secara harfiah berarti "dibaca dengan nafas berat". Mahaprana jarang muncul dan karenanya seringkali tidak dibahas [2] dalam buku mengenai aksara Jawa.[2]

Konsonan Tambahan

Aksara Tambahan
Name Ganten Ka Sasak Ra Agung
Nga Lelet Nga Lelet Raswadi Pa Cerek

Ganten nga lelet.png
Ganten nga lelet raswadi.png
Ganten pa cerek.png
Tall margin Lain-lain ka sasak.png
Lain-lain ra agung.png
Terdapat beberapa huruf yang dalam perkembangannya dianggap sebagai konsonan. Pa cerek dan nga lelet awalnya adalah konsonan-vokalik /r̥/ dan /l̥/ (dengan nga lelet raswadi merepresentasikan /l̥/ panjang) yang muncul pada perkembangan awal aksara Jawa karena pengaruh bahasa Sansekerta. Ortografi kontemporer menggunakan keduanya sebagai huruf konsonan[2] yang bernama aksara ganten atau "aksara pengganti", yaitu huruf dengan vokal /ə/ yang menggantikan setiap kombinasi ra+pepet dan la+pepet.[10] Karena sudah memiliki vokal tetap, kedua huruf tersebut tidak dapat dipasangkan dengan tanda baca vokal. Keduanya juga memiliki bentuk pasangan. Ka sasak merupakan penulisan tradisional bunyi /qa/ yang digunakan dalam bahasa Sasak. Secara historis, ra agung digunakan oleh sejumlah penulis untuk nama orang yang dihormati, terutama anggota kerajaan.[2]
Kebanyakan bunyi yang asing dalam bahasa Jawa ditulis dengan tanda baca cecak telu diatas huruf yang bunyinya mendekati.[2][4] Huruf semacam itu disebut sebagai rekan atau rekaan, yang diklasifikan berdasarkan bahasa asalnya. Rekan paling umum berasal dari bahasa Arab dan bahasa Belanda. Terdapat pula dua jenis rekan lainnya yang digunakan untuk menulis bahasa Sunda dan kata serapan bahasa Cina.

Vokal

Aksara Swara (Vokal)

a i u é o
Pendek
Vowel akara.png
Vowel ikara.png
1
Vowel ukara.png
Vowel ekara.png
Vowel okara.png
Panjang
Vowel aakara.png
Vowel iikara.png
Vowel uukara.png
Vowel aikara.png
(ai)2
Vowel aukara.png
(au)2
^1 Dalam teks tua, Vowel ikara.pngdigunakan untuk /i/ panjang, sementara /i/ pendek menggunakan sebuah huruf yang sekarang dikenal sebagai i kawi Vowel i kawi.png
^2 Sebenarnya sebuah diftong.

Vokal murni umumnya ditulis dengan huruf ha sebagai konsonan kosong dengan tanda baca yang sesuai. Selain cara tersebut, terdapat juga huruf yang merepresentasikan vokal murni bernama aksara swara (ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦱ꧀ꦮꦫ) yang digunakan untuk menandakan sebuah nama, seperti halnya huruf murda. Sebagai contoh, kata sifat "ayu" ditulis dengan huruf ha. Namun untuk menulis seseorang yang bernama Ayu, aksara swara digunakan. Swara juga digunakan untuk mengeja kata bahasa asing. Unsur Argon semisal, ditulis dengan swara. [10][7]

Pasangan

Pasangan Wianjana
Transkripsi Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga
Nglegena
Pasangan nglegena ha.png
Pasangan nglegena na.png
Pasangan nglegena ca.png
Pasangan nglegena ra.png
Pasangan nglegena ka.png
Pasangan nglegena da.png
Pasangan nglegena ta.png
Pasangan nglegena sa.png
Pasangan nglegena wa.png
Pasangan nglegena la.png
Pasangan nglegena pa.png
Pasangan nglegena dha.png
Pasangan nglegena ja.png
Pasangan nglegena ya.png
Pasangan nglegena nya.png
Pasangan nglegena ma.png
Pasangan nglegena ga.png
Pasangan nglegena ba.png
Pasangan nglegena tha.png
Pasangan nglegena nga.png
Murda
Pasangan murda na.png
Pasangan murda ca.png

Pasangan murda ka.png
Pasangan murda da.png
Pasangan murda ta.png
Pasangan murda sa.png

Pasangan murda pa.png

Pasangan murda nya.png

Pasangan murda ga.png
Pasangan murda ba.png

Mahaprana
Pasangan mahaprana sa.png

Pasangan mahaprana dha.png
Pasangan mahaprana ja.png

Pasangan mahaprana tha.png

Tambahan Ganten Ka Sasak Ra Agung
Nga Lelet Nga Lelet Raswadi Pa Cerek
Pasangan ganten nga lelet.png
Pasangan ganten nga lelet raswadi.png
Pasangan ganten pa cerek.png
Pasangan lain-lain ka sasak.png
Pasangan lain-lain ra agung.png
Untuk menulis suatu konsonan murni, tanda baca pangkon digunakan untuk menekan vokal huruf dasar. Namun pangkon hanya boleh dipakai di akhir kalimat, dan apabila huruf mati terjadi di tengah kalimat, huruf pasangan (ꦥꦱꦔꦤ꧀) digunakan. Pasangan adalah huruf subskrip yang menghilangkan vokal inheren aksara tempat ia terpasang. Misal, apabila huruf na dipasangkan dengan pasangan da, maka akan dibaca nda.[2]
Pasangan dapat diberi tanda baca, seperti halnya aksara dasar, dengan beberapa pengecualian pada penempatan. Tanda baca yang berada di atas dipasang pada aksara, sementara tanda baca yang berada di bawah dipasang pada pasangan. Tanda baca yang berada sebelum dan sesudah huruf dipasang segaris dengan aksara. Sebuah aksara hanya boleh dipasang dengan satu pasangan, dan pasangan dapat dipasang dengan sejumlah tanda baca. Dalam teks lama, pasangan wa dapat ditempelkan dengan pasangan lain sebagai pengecualian karena dianggap sebagai tanda baca.

Sandhangan

Sandhangan (ꦱꦤ꧀ꦝꦔꦤ꧀) adalah tanda baca (berbeda dengan tanda baca teks seperti koma atau titik) yang berfungsi untuk mengubah vokal huruf dasar, layaknya harakat pada abjad Arab. Selain itu, sandhangan juga memiliki sejumlah fungsi lain.

Vokal

Sandhangan Swara (Tanda baca vokal)

a i u é o e
Pendek
Sandangan wulu.png
wulu
Sandangan suku.png
suku
Sandangan taling.png
taling
Sandangan taling-tarung.png
taling-tarung
Sandangan pepet.png
pepet
Panjang
Sandangan tarung.png
tarung
Sandangan wulu melik.png
wulu melik
Sandangan suku mendut.png
suku mendut
Sandangan dirga mure.png
dirga muré
(ai) 1
Sandangan dirga mure-tarung.png
dirga muré-tarung
(au) 1
Sandangan pepet-tarung.png
pepet-tarung
(eu) 2
^1 Sebenarnya sebuah diftong.
^2 Digunakan dalam penulisan bahasa Sunda.

Tanda baca vokal disebut sebagai sandhangan swara (ꦱꦤ꧀ꦝꦔꦤ꧀ꦱ꧀ꦮꦫ), dan merupakan tanda baca yang paling umum. Terdapat lima sandhangan untuk bahasa Jawa modern. Tanda baca vokal tidak boleh digunakan lebih dari satu dalam sebuah aksara, dengan pengecualian tarung yang dapat digunakan dalam beberapa kombinasi terbatas, semisal taling-tarung. Terdapat pula kombinasi pepet-tarung, namun hanya digunakan dalam transkripsi bahasa Sunda. Sebuah tarung tunggal juga dapat merepresentasikan -a panjang (/aː/), namun vokal tersebut hanya digunakan dalam bahasa Jawa Kuno.[10] Tanda baca vokal dapat digunakan bersama tanda baca konsonan.
Dalam teks tertentu, wulu dan pepet hanya dibedakan dari ukurannya; wulu lebih kecil dan pepet lebih besar. Namun perbedaan ukuran ini kadang kurang kentara dalam tulisan tangan atau teks kaligrafik.

Konsonan

Sandhangan Panyigeging Wanda
(Tanda baca pengakhir)
Sandhangan Wyanja
(Tanda baca penyisip)
-m -ang -ah -ar - -r- -re- -y-
Sandangan panyangga.png
panyangga 1
Sandangan cecak.png
cecak
Sandangan wignyan.png
wignyan
Sandangan layar.png
layar
Sandangan pangkon.png
pangkon
Sandangan cakra.png
cakra 2
Sandangan keret.png
keret 3
Sandangan pengkal.png
pengkal
^1 Panyangga umumnya hanya digunakan untuk simbol suci Simbol aum.png Om.[10]
^2 Cakra mempunyai dua bentuk, ligatura dan inisial yang ditunjukkan pada contoh diatas. Bentuk kedua lebih sering digunakan
^3 Keret tidak dapat dipasangkan dengan tanda baca vokal karena telah memiliki vokal /ə/

Terdapat dua jenis tanda baca konsonan, tanda baca pengakhir (sandhangan panyigeging wanda, ꦱꦤ꧀ꦝꦔꦤ꧀ꦥꦚꦶꦒꦼꦒꦶꦁꦮꦤ꧀ꦢ), dan tanda baca penyisip (sandhangan wyanjana, ꦱꦤ꧀ꦝꦔꦤ꧀ꦮꦾꦤ꧀ꦗꦤ.[7] Panyangga, cecak, and wignyan are memiliki fungsi yang sama seperti halnya karakter Devanagari candrabindu, anusvara, dan visarga.[2] Pangkon memiliki fungsi yang sama seperti halnya virama dalam aksara Brahmi lain, yakni untuk menghilangkan vokal suatu huruf dasar untuk membentuk konsonan akhir. Namun beberapa konsonan akhir mempunyai tanda baca khusus, dimana dalam kasus tersebut pangkon tidak boleh digunakan. Misal, konsonan akhir -r ditulis dengan layar, tidak boleh dengan ra dan pangkon. Seperti halnya tanda baca vokal, tanda baca konsonan tidak boleh digunakan lebih dari satu dalam satu huruf, namun boleh digunakan bersama dengan tanda baca vokal.

Angka

Sistem angka Jawa mempunyai numeralnya sendiri, yang hanya terdiri dari angka 0–9 sebagai berikut:
Angka
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0
Angka 1.png siji Angka 2.png loro Angka 3.png telu Angka 4.png papat Angka 5.png limo Angka 6.png enem Angka 7.png pitu Angka 8.png wolu Angka 9.png songo Angka 0.png nol
Untuk menulis angka yang lebih besar dari 9, gabungkan dua angka atau lebih diatas seperti halnya angka Arab. Misal, 21 ditulis dengan menggabungkan 2 dan 1 menjadi; ꧒꧑. Dengan cara kerja yang sama, 90 ditulis dengan ꧙꧐.[3]
Sebagian besar angka Jawa memiliki bentuk yang mirip dengan karakter silabel Jawa, yaitu 1 dengan ga, 2 dengan nga lelet, 6 dengan e, 7 dengan la, 8 dengan pa murda, dan 9 dengan ya. Untuk menghindari kerancuan, angka yang muncul dalam teks diapit dengan penanda angka yang disebut pada pangkat. Misal, "Selasa 19 Maret 2013" ditulis dengan:
ꦱꦼꦭꦱ꧇꧑꧙꧇ꦩꦉꦠ꧀꧇꧒꧐꧑꧓꧇
Terkadang, pada lungsi digunakan sebagai penanda angka,[10] dan terkadang angka Jawa sepenuhnya digantikan dengan angka Arab untuk menghindari kemiripan.

Tanda Baca

Tanda baca dapat dibedakan menjadi dua: umum dan khusus.
Primary Pada
Symbol Name Function
Pada adeg2.png
Pada adeg Tanda kurung atau petik
Pada adeg-adeg.png
Pada adeg-adeg Mengawali suatu paragraf
Pada piseleh.png dan Pada piseleh terbalik.png Pada piseleh Berfungsi seperti halnya pada adeg
Pada lingsa1.png
Pada lingsa Koma atau tanda singkatan
Pada lungsi1.png
Pada lungsi Titik
Pada pangkat1.png
Pada pangkat Tanda angka atau titik dua
Terdapat dua peraturan khusus mengenai penggunaan koma.[3]
1. Koma tidak ditulis setelah kata yang berujung pangkon.
2. Koma menjadi titik apabila tetap ditulis setelah pangkon.
Pada khusus
Symbol Name Function
Pada rerengan kiri.png dan Pada rerengan kanan.png Rerengan Mengapit judul
Pada surat luhur.png
Pada luhur Mengawali sebuah surat untuk orang yang lebih tua atau berderajat lebih tinggi
Pada surat madya.png
Pada madya Mengawali sebuah surat untuk orang yang sebaya atau berderajat sama
Pada surat andhap.png
Pada andhap Mengawali sebuah surat untuk orang yang lebih muda atau berderajat lebih rendah
Pada guru1.png
Pada guru Mengawali sebuah surat tanpa membedakan umur atau derajat
Pada pancak1.png
Pada pancak Mengakhiri suatu surat
Pada tembang purwa.png
atau
Pada tembang purwa1.png
Purwapada Mengawali sebuah tembang atau puisi
Pada tembang madya.png
Madyapada Menandakan bait baru
Pada tembang wasana.png
Wasanapada Mengakhiri tembang atau puisi.[3][4]
Pada tirta tumetes.png
Tirta tumétés Tanda koreksi yang digunakan di Yogyakarta
Pada isen-isen.png
Isèn-isèn Tanda koreksi yang digunakan di Surakarta
Pada rangkep.png
Pada rangkep Tanda penggandaan kata
Tanda baca khusus memiliki banyak varian karena sifatnya yang ornamental, dihias berdasarkan selera dan kemampuan penulis.[2]
Tirta tumétés dan Isèn-isèn adalah semacam tanda koreksi yang berguna untuk menandakan salah tulis.[10] Apabila terjadi kesalahan penulisan, bagian yang salah diberikan salah satu dari dua tanda tersebut sebanyak tiga kali. Tirta tumétés digunakan oleh penulis Yogyakarta, sementara Isèn-isèn digunakan oleh penulis Surakarta. Sebagai contoh, seorang penulis dari Yogyakarta ingin menulis pada luhur namun salah tulis menjadi pada wu..., maka akan ditulis:
ꦥꦢꦮꦸ꧞꧞꧞ꦭꦸꦲꦸꦂ
Pada wu---luhur
Penulis dari Surakarta akan menulis:
ꦥꦢꦮꦸ꧟꧟꧟ꦭꦸꦲꦸꦂ[2]
Pangrangkep menandakan kata berulang (rangkep)[10], seperti pada kata "kupu-kupu" yang ditulis menjadi "kupu2". Karakter ini pada dasarnya adalah angka Arab dua (٢), namun tidak memiliki fungsi angka dalam aksara Jawa. Karakter tersebut diproposalkan sebagai karakter independen karena sifat dwi-arah angka Arab.[2]

Urutan Huruf

Aksara Jawa umum diurutkan dengan urutan Hanacaraka sebagai berikut:
ꦲꦤꦕꦫꦏꦢꦠꦱꦮꦭꦥꦝꦗꦪꦚꦩꦒꦧꦛꦔ
Urutan tersebut membentuk sebuah puisi atau pangram 4 bait yang menceritakan tentang tokoh Aji Saka dan legenda terciptanya aksara Jawa[11]. Puisi tersebut diceritakan sebagai berikut:
Terdapat dua utusan/pembawa pesan. Yang berbeda pendapat. (Mereka berdua) sama kuatnya. Inilah mayat mereka.
Aksara Jawa juga dapat disusun dengan urutan Kaganga yang mengikuti kaidah Sansekerta Panini.[2] Urutan ini dipakai untuk mengatur aksara Jawa pada periode Hindu-Buddha, dan sekarang dipakai sebagai urutan aksara Jawa dalam Unicode. Dengan urutan ini, setiap huruf dapat mewakili bunyi unik yang digunakan dalam bahasa Jawa kuno. Urutannya sebagai berikut:
ꦏꦑꦒꦓꦔꦕꦖꦗꦙꦚꦛꦜꦝꦞꦟꦠꦡꦢꦣꦤꦥꦦꦧꦨꦩꦪꦫꦭꦮꦯꦰꦱꦲ
Kalangan neo-konservatif Jawa juga mengemukakan urutan alternatif yang dengan ciri kedua urutan diatas. Huruf disusun berdasarkan urutan hanacaraka, namun huruf murda dan mahaprana diikutsertakan beserta bunyi aslinya sebagaimana dalam urutan kaganga. Hal ini dianggap memudahkan pelafalan dan berguna untuk menulis bahasa asing. Urutannya sebagai berikut:
ha na nna ca cha ra rra ka kha
da dha ta tha sa sha ssa wa la
pa pha dha ddha ja jha ya nya jnya
ma ga gha ba bha tha ttha nga

Penggunaan diluar bahasa Jawa

Bahasa Sunda

Aksara Jawa juga dapat digunakan untuk menulis bahasa Sunda. Namun aksara dimodofikasi dan dikenal dengan nama Cacarakan. Salah satu perbedaan terlihat dari tidak digunakannya huruf dha dan tha, sehingga konsonan dasarnya hanya terdiri dari 18 huruf. Perbedaan juga terlihat dari penggunaan kombinasi tanda baca pepet-tarung untuk vokal /ɤ/,[10], penyederhanaan vokal /o/ menjadi tanda baca tunggal tolong,[10] dan bentuk huruf "nya" yang berbeda[10].

Bahasa Bali

Aksara Bali pada dasarnya hanyalah varian tipografik. Seperti Sunda, Bali juga tidak menggunakan huruf dha dan tha. Namun karakter yang tidak digunakan lagi di Jawa masih digunakan untuk menulis kata serapan Sansekerta dan Jawa Kuno.[12]
Hanacaraka gaya Jawa
Hanacaraka gaya Bali
Hanacaraka gaya Jawa Hanacaraka gaya Bali

Bahasa Indonesia dan Asing

Sebuah mall di Surakarta, Jawa Tengah.
Karena sifatnya yang fonetis, aksara Jawa dapat dipakai untuk menulis bahasa Indonesia dan kata serapan bahasa asing. Hal ini dapat dilihat pada tempat-tempat umum di wilayah berbahasa Jawa, terutama di Surakarta dan sekitarnya. Kata dari bahasa asing ditulis sebagaimana kata tersebut diucap, bukan berdasarkan pengejaannya. Sebagai contoh, "Solo Grand Mall" ditransliterasikan menjadi ꦱꦺꦴꦭꦺꦴꦒꦿꦺꦤ꧀ꦩꦭ꧀ yang secara harfiah ditransliterasikan kembali menjadi "solo gren mol".

Font

Perbandingan tampilan beberapa font Jawa
JG Aksara Jawa, oleh Jason Glavy
Sample JG Aksara Jawa.png
Tuladha Jejeg, oleh R.S. Wihananto
Sample Tuladha Jejeg.png
Aturra, oleh Aditya Bayu
Sample Aturra.png
Adjisaka, oleh Sudarto HS/Ki Demang Sokowanten
Sample Adjisaka.png
Pada tahun 2013, terdapat sejumlah font pendukung aksara Jawa yang beredar luas: Hanacaraka/Pallawa oleh Teguh Budi Sayoga,[13] Adjisaka oleh Sudarto HS/Ki Demang Sokowanten,[14] JG Aksara Jawa oleh Jason Glavy,[15] Carakan Anyar oleh Pavkar Dukunov,[16] dan Tuladha Jejeg oleh R.S. Wihananto,[17] yang berbasiskan teknologi Graphite (SIL). Font lain yang edaran terbatas termasuk Surakarta yang dibuat oleh Matthew Arciniega pada 1992 untuk screen font Mac,[18] dan Tjarakan yang dikembangkan AGFA Monotype sekitar tahun 2000.[19] Terdapat juga font berbasis symbol bernama Aturra yang dikembangkan Aditya Bayu sejak 2012-2013.[20]
Karena kompleksitas aksara Jawa, banyak font aksara Jawa menggunakan metode input non-konvensional dibanding aksara Brahmi lain, dan memiliki sejumlah masalah. Semisal, penggunaan JG Aksara Jawa dapat menimbulkan konflik dengan tulisan lain karena font tersebut menggunakan kode berbagai tulisan selain Jawa.[21]
Secara teknis, dapat dikatakan bahwa font Tuladha Jejeg adalah yang paling lengkap. Font tersebut mampu menampilkan bentuk kompleks dan mendukung semua karakter Jawa dengan basis Unicode. Hal ini dicapai dengan penggunaan teknologi teknologi Graphite (SIL). Namun karena tidak banyak tulisan yang butuh dukungan sekompleks Jawa, penggunaan terbatas pada program yang mendukung Graphite, seperti browser Firefox, dan Thunderbird email client. Font ini juga digunakan untuk tampilan aksara Jawa di Wikipedia Jawa.[10]

Unicode

Aksara Jawa resmi dimasukkan kedalam Unicode sejak Oktober, 2009, dengan dirilisnya Unicode versi 5.2. Blok Unicode aksara Jawa terletak pada kode U+A980–U+A9DF. Terdapat 91 kode yang mencakup 53 huruf, 19 tanda baca, 10 angka, dan 9 vokal. Sel abu-abu menunjukkan titik kode yang belum terpakai.
Javanese[1]
Tabel Unicode.org (PDF)
  0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A B C D E F
U+A98x
U+A99x
U+A9Ax
U+A9Bx ꦿ
U+A9Cx
U+A9Dx



Catatan
1.^Sebagaimana dalam Unicode versi 6.1

Galeri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar